Oleh: Eka Darmaputera"Aku harap dalam perjalananku ke Spanyol, aku dapat singgah di tempatmu
dan bertemu dengan kamu, sehinga kamu dapat mengantarkan aku ke sana,
setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu." Itulah kedambaan
serta rencana Paulus. Destinasi Spanyol, via Roma. Rencana itu ternyata
gagal total. Ke Spanyol, ia tak pernah sampai. Ke Roma pun, ia cuma
singgah sebagai terpidana.
"Spanyol" dan "Roma" adalah gambaran hidup manusia. Harapan yang luruh.
Mimpi yang runtuh. Dawai harpa yang putus satu satu. Penegasan betapa
kegagalan mewujudnyatakan harapan adalah bagian tak terpisahkan dari
realitas kehidupan.
Kita telah membahas dua macam reaksi manusia terhadap kenyataan pahit
ini (red: baca "Pinjamkan Kepadaku Tiga Roti). Keduanya saling berbeda,
tapi sama-sama tak membuahkan apa-apa. Reaksi yang satu, adalah menolak
dan melawan. Hasilnya? Bagai menahan banjir dengan kedua belah tangan.
Sia-sia. Reaksi yang lain, memilih sikap tiarap sambil menjauh dan
bersembunyi. Hasilnya? Bagaikan burung unta. Menyangka telah bebas dari
bahaya, hanya karena tidak melihatnya. Bodoh.
Bila melawan salah, tapi menghindar pun percuma, lalu bagaimana
semestinya? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita
bahas dulu alternatif ketiga. Yang melawan tidak, menghindar pun tidak.
Melainkan mencemplungkan diri ke dalamnya, mengikut arus.
Di balik sikap yang sering disebut orang "pragmatis" tersebut,
tersembunyilah sebuah filsafat hidup yang tak banyak disadari--apalagi
diakui--bahkan oleh para penganutnya sendiri. Filsafat hidup yang saya
maksudkan adalah fatalisme. Yang dalam praktik, salah satu derivatnya
adalah oportunisme.
* * *
Esensi fatalisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada atau
terjadi sesungguhnya telah ditetapkan dan ditentukan dari "sono"-nya.
Ditentukan oleh apa atau siapa? Oleh apa pun namanya, yang kekuatannya
jauh melampaui kekuatan kita. Karena itu, ketetapannya tidak bisa
berubah dan tidak boleh diubah.
Kalau Shakespeare mengiaskan kehidupan sebagai sebuah pentas drama,
dengan lakon yang sudah pasti pakemnya, dan dengan pembagian peran yang
telah ditentukan sebelumnya, maka sang "Ia" itulah sutradaranya.
Penentu segala sesuatu.
Terhadap keyakinan bahwa segala sesuatu punya penggerak atau penyebab
perdana (= prima causa), saya tidak punya keberatan apa-apa. Yang ingin
saya persoalkan adalah, karena fatalisme telah menarik konsekuensi yang
terlampau jauh dari situ. Misalnya, aliran ini meyakini bahwa karena
segala sesuatu telah ditentukan terlebih dahulu (= predestined) oleh
Sang Maha Kuasa, maka konsekuensinya adalah Anda dan saya--si mahluk
fana dan hina dina ini--tidak diberi pilihan lain, kecuali menerimanya.
Sebenarnya sampai di sini pun, keberatan saya masih belum terlalu
prinsipal.
Namun ketika mereka mengatakan bahwa menerima ketetapan Allah itu
berarti menyerah dan takluk secara pasif ; ketika mereka mengatakan
bahwa karenanya kebebasan atau kehendak bebas adalah nonsens dan mitos
semata; dan mengajarkan bahwa jalan kehidupan manusia adalah bagaikan
sabut kelapa yang dipermainkan gelombang, yang bernama "nasib"; wah,
no way.
Gambaran manusia di situ adalah gambaran manusia yang sangat malang.
Ibarat bola yang disepak ke sana kemari sekehendak hati . Sangat
berlawanan dengan gambaran di dalam Alkitab bahwa manusia--walaupun
fana--adalah makhluk mulia. Dan bahwa kehendak bebas--sebab itu,
tanggung jawab--bukanlah isapan jempol belaka.
* * *
Oportunisme adalah anak sulung fatalisme. Mengapa? Sebab jika sesuatu
cuma mesti diterima, lha ya buat apa susah-susah melawannya? Bila
korupsi jelas-jelas mustahil dihapus, mengapa tidak justru menangguk
untung dari padanya? Ketimbang basah karena kecipratan lumpur orang
lain, mengapa tidak mencemplungkan diri saja sekalian? Menjilat
penguasa lalim yang tak mungkin ditumbangkan, bukanlah soal benar atau
salah. Tapi soal cerdik atau bodoh. Soal realistis atau berkhayal.
Beberapa fatalis adalah orang-orang yang amat religius. Maksud saya,
religisoitas mereka adalah religiositas yang fatalistis.
Mereka mengatakan, bila tak sehelai rambut pun akan gugur dari kepala
tanpa ditentukan oleh Allah, maka apa yang "ada"--apa lagi bila
"sukses"--pastilah dikehendaki Allah. Tidak bisa tidak. Dan bila
dikehendaki Allah, bagaimana mungkin melawannya?
Anda lihatkah bahaya moral yang luar biasa besar di sini? Yaitu ketika
orang menganggap bahwa semua yang "dibiarkan" Allah adalah
"dikehendaki" Allah! Logikanya: bila Tuhan tidak mengizinkan, pasti
saya tak akan berhasil mengeluarkan barang-barang selundupan itu. Tapi
buktinya saya berhasil 'kan? Jadi? Bila logika semacam ini kita tarik
lebih jauh, maka mereka percaya bahwa karena Iblis dibiarkan Tuhan,
maka perbuatan Iblis juga disetujui Tuhan. Wah!
* * *
Memang benar, kebebasan yang tak terbatas itu tidak ada. Ada banyak hal
di dalam hidup kita, di mana kita tinggal menerimanya. Bahkan kelahiran
dan kehadiran kita di dunia ini sekalipun! Ini bukan pilihan Anda,
bukan?
Tapi antara "menerima" dan "menerima," bisa berbeda-beda kualitas serta
dampaknya. Ada yang menerima, tapi dengan penasaran. Ada yang menerima,
sekadar karena apa boleh buat. Tapi ada pula yang menerima dengan
ketaatan, dan tanpa kegetiran. Yang justru memanfaatkan kegagalan
sebagai awal keberhasilan baru, tanpa mengkhianati prinsip serta hati
nurani. Orang yang berkata, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
* * *
Pertanyaan yang paling kreatif ketika kita, seperti Paulus, menyadari
kenyataan bahwa kita tidak bisa ke "Spanyol," adalah: bagaimana
mengubah kegagalan menjadi kekayaan, dan tantangan menjadi peluang.
Serdadu-serdadu Romawi telah mengubah mahkota menjadi duri. Dengan itu
mereka menyangka, mereka berhasil mematahkan semangat dan keyakinan
diri Yesus. Ternyata mereka gagal. Mereka gagal, karena Yesus mengubah
duri di kepalaNya menjadi mahkota!
Orang-orang berpengaruh yang berhasil mengukir sejarah adalah orang-
orang dengan perangai seperti itu. Orang-orang yang mengubah "duri"
menjadi "mahkota." Begitulah kita baca dari riwayat hidup Charles
Darwin, Robert Louis Stevenson, Helen Keller, Gus Dur, dan sebagainya.
Mereka mengubah kondisi yang merugikan, menjadi aset yang menguntungkan.
Penulis biografi George Frederick Handel menulis, "Kesehatannya dan
nasibnya telah membawa Handel ke titik paling rendah. Tubuhnya sebelah
kanan lumpuh total. Uangnya habis tandas tanpa sisa. Orang-orang yang
menagih utang mengancam akan membawanya ke penjara. Untuk beberapa saat,
ia tergoda untuk menyerah. Tapi kemudian semangatnya membubung lagi,
dan itu dipakainya untuk menulis karya terbesarnya: 'MESSIAH'"
Koor HALELUYA yang megah tidak digubah di sebuah villa musim panas di
"Spanyol" atau "Roma." Melainkan lahir di sebuah "bilik bui" yang
sempit, gelap, dan pengap. Karenya, saudaraku, wajah Indonesia yang
bopeng dan keriput bukanlah alasan yang sah untuk kita berhenti
mencintainya. Luka-luka bernanah di sekujur tubuhnya jangan kita
jadikan dalih, untuk menjauhi dan cuma mengutukinya tanpa berbuat
apa-apa. (SH-06